Sebuah perceraian pasti
meninggalkan luka pada buah hati. Rasa sakit yang muncul bisa diminimalkan jika
kita bisa bersikap bijak dalam menjelaskan. Ingin tahu caranya? Simak ulasan
berikut.
Biasanya setiap pagi Sari (8) akan bertemu ayahnya, walau cuma sebentar. Tiba-tiba satu bulan belakangan, ia tak pernah melihat lagi sosok pria yang sangat disayanginya itu. Awalnya Sari mengira ayahnya hanya pergi sebentar karena urusan pekerjaan. Ternyata, ia keliru. Sang ayah bukan pergi karena pekerjaan, tapi karena perceraian. Sari pun merasa sangat kecewa, marah, dan sedih saat menyadari ayahnya tak pernah kembali ke rumah.
Sari juga merasa sangat malu karena memiliki orang tua yang bercerai. Ia kesuhtan menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi acara bepergian bersama-sama, baik untuk berlibur ke luar kota atau sekadar berjalan-jalan di mal. Ia merasa sangat berbeda dari teman-temannya. Hal itu membuat Sari menarik diri dari pergaulan dan membuatnya malas belajar. Jangankan belajar, untuk berangkat ke sekolah pun dirasakannya sangat berat.
Menurut psikolog Irma Gustiana A. M.Psi, perceraian merupakan kejadian yang dapat membuat anak stres dan trauma. "Di usia yang terlalu dini mereka seperti dipaksa memahami dan menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya tidak lagi bersama," ungkap wanita yang akrab disapa Irma tersebut.
Sebagian anak memang mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik. Bagi mereka, perceraian orang tua mungkin tidak menyebabkan masalah berkepanjangan. Namun, tidak demikian untuk anak-anak lain. Tidak sedikit yang gagal beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam keluarga. Akibatnya efek psikologis yang terjadi saat kanak-kanak akan terbawa hingga dewasa.
Berikut beberapa perilaku yang biasanya ditunjukkan anak saat orang tua bercerai:
Ø Jadi lebih mudah marah dan sensitif. Biasanya hal ini terjadi karena dia merasa kehilangan kepercayaan pada orang tua dan orang lain disekitar.
Ø Jadi pribadi pemurung dan pendiam. Buah hati biasanya jadi enggan untuk bersosialisasi. Dia merasa malu karena berbeda dari teman sebaya lainnya.
Ø Sering menyalahkan diri sendiri serta sulit untuk memaafkan orang lain. Perilaku ini kemudian membuat anak jadi kesepian.
Ø Mengalami gangguan belajar yang membuat nilai-nilai akademiknya menurun. Hal ini lebih disebabkan karena mereka merasa tidak ada lagi yang memotivasi dirinya. Dia jadi lebih banyak termenung dan tidak mempunyai dorongan semangat yang kuat.
Ø Keniungkinan mengalami kemund regresi atau kemunduran mental. Misalnya, kembali mengompol karena rasa cemas.
Ø Mencoba hal-hal negatif. Sebagian anak melampiaskan perasaan gundahnya ke hal-hal yang negatif, seperti merokok, narkoba, atau bahkan seks bebas. Ini terutama bagi buah hati yang memasuki usia pra remaja.
"Pada beberapa kasus perceraian, efek psikologis yang akan paling terasa pada anak adalah rasa amarah. Rasa amarah ini dirasakan baik pada diri sendiri maupun terhadap orangtuanya," jelas Irma. la kemudian menambahkan bahwa kemarahan yang meluap pada anak akan menimbulkan sikap agresif, sementara kemarahan yang selalu dipendam akan membuat anak mempunyai kecenderungan menjadi sosok yang pemurung, pendiam, dan selalu menarik diri.
Jika keputusan berpisah sudah tidak dapat dihindari lagi, sebaiknya orang tua terlebih dulu menginformasikan hal itu kepada buah hati. Sampaikan dengan hati-hati agar mereka tidak shock. Sebelum menyampaikan, perhatikan situasi, kondisi, dan waktu. Semua harus tepat. "Terlalu dini atau terlalu lama memberikan kabar, efek psikologisnya bisa lebih buruk. Harus tepat," tambah Irma.
Jika orang tua terlalu dini dan terburu-buru memberikan kabar perceraian, apalagi tanpa mempertimbangkan kesiapan mental, perasaan anak-anak akan tidak nyaman. Namun, terlalu mengulur-ulur waktu pun tidak dianjurkan sebab hanya membuat buah hati kebingungan dengan keadaan yang sebenarnya.
"Orang tua bisa memanfaatkan hari Hbur untuk mengajak buah hati bicara. Pada saat menyampaikan, gunakanlah bahasa yang sederhana sehingga dapat dimengerti anak. Yang terpenting, ucapkanlah minta maaf pada mereka. Katakan bahwa perceraian terjadi bukan karena anak-anak. Ini perlu dilakukan sebab sebagian anak jadi merasa sangat bersalah ketika mengetahui orang tuanya bercerai, menganggap perpisahan itu terjadi karena ulah mereka," imbuh Irma.
Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak-anak tetap bisa berkembang secara normal, meski ayah dan ibunya bercerai. Agar dapat terwujud, hal yang paling penting dilakukan adalah menjalin hubungan baik dengan mantan suami. Lalu, lakukan langkah-langkah berikut:
Selalu adakan pertemuan secara rutin. Rutin artinya haruslah pasti, terprediksi dan konsisten. Pertemuan di sini maksudnya pertemuan anak-anak dengan orang tua yang terpisah (misalnya ayahnya). Jika buah hati sudah mulai dapat beradaptasi dengan perceraian, barulahjadwal pertemuan bisa dibuat dengan lebih fleksibel. Jangan bersikap egois. Anda harus dapat mengesampingkan masalah pribadi yang terjadi sehingga buah hati Anda tidak terbawa-bawa dalam masalah sejak awal terjadinya proses perceraian ini.
Jaga kesan positif. Walau sudah berpisah, masing-masing pihak, baik ayah atau ibu, harus bisa terus memberikan pencitraan positif tentang mantan pasangannya. Jangan katakan bahwa perceraian ini karena, misalnya, ayah yang kasar, tidak setia atau tidak bertanggung jawab dan lain sebagainya. Kita harus tetap menjaga respek buah hati kepada ayah kandungnya.
Jangan tempatkan buah hati pada sebuah konflik pribadi. Misalnya meminta anak untuk berbohong. Anda harus tetap mengajarkan mereka untuk mempunyai rasa hormat, baik terhadap orang tua maupun diri sendiri.
Usahakanlah untuk selalu hadir di acara-acara penting anak, baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Misalnya, saat buah hati sedang dirawat karena sakit, buah hati sedang mengikuti lomba atau pentas, menerima hadiah, wisuda dan lainnya.
Seberapa keras usaha orang tua, kadang efek buruknya pada anak tali bisa diprediksi. Untuk itu, ada baiknya bekerja sama dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan buah hati, misalnya wali kelas. Sebelumnya jangan lupa untuk memberikan informasi pada pihak sekolah tentang perubahan-perubahan yang terjadi. Mereka juga perlu tahu. Selain itu, jika memang diperlukan, janganlali ragu untuk menggunakan tenaga ahli dalam menangani buah hati, misalnya psikolog. Dengan bantuan itu, buah hati bisa melalui masa-masa sulit dengan lebih baik.
Biasanya setiap pagi Sari (8) akan bertemu ayahnya, walau cuma sebentar. Tiba-tiba satu bulan belakangan, ia tak pernah melihat lagi sosok pria yang sangat disayanginya itu. Awalnya Sari mengira ayahnya hanya pergi sebentar karena urusan pekerjaan. Ternyata, ia keliru. Sang ayah bukan pergi karena pekerjaan, tapi karena perceraian. Sari pun merasa sangat kecewa, marah, dan sedih saat menyadari ayahnya tak pernah kembali ke rumah.
Sari juga merasa sangat malu karena memiliki orang tua yang bercerai. Ia kesuhtan menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi acara bepergian bersama-sama, baik untuk berlibur ke luar kota atau sekadar berjalan-jalan di mal. Ia merasa sangat berbeda dari teman-temannya. Hal itu membuat Sari menarik diri dari pergaulan dan membuatnya malas belajar. Jangankan belajar, untuk berangkat ke sekolah pun dirasakannya sangat berat.
Menurut psikolog Irma Gustiana A. M.Psi, perceraian merupakan kejadian yang dapat membuat anak stres dan trauma. "Di usia yang terlalu dini mereka seperti dipaksa memahami dan menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya tidak lagi bersama," ungkap wanita yang akrab disapa Irma tersebut.
Sebagian anak memang mempunyai kemampuan beradaptasi yang baik. Bagi mereka, perceraian orang tua mungkin tidak menyebabkan masalah berkepanjangan. Namun, tidak demikian untuk anak-anak lain. Tidak sedikit yang gagal beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam keluarga. Akibatnya efek psikologis yang terjadi saat kanak-kanak akan terbawa hingga dewasa.
Berikut beberapa perilaku yang biasanya ditunjukkan anak saat orang tua bercerai:
Ø Jadi lebih mudah marah dan sensitif. Biasanya hal ini terjadi karena dia merasa kehilangan kepercayaan pada orang tua dan orang lain disekitar.
Ø Jadi pribadi pemurung dan pendiam. Buah hati biasanya jadi enggan untuk bersosialisasi. Dia merasa malu karena berbeda dari teman sebaya lainnya.
Ø Sering menyalahkan diri sendiri serta sulit untuk memaafkan orang lain. Perilaku ini kemudian membuat anak jadi kesepian.
Ø Mengalami gangguan belajar yang membuat nilai-nilai akademiknya menurun. Hal ini lebih disebabkan karena mereka merasa tidak ada lagi yang memotivasi dirinya. Dia jadi lebih banyak termenung dan tidak mempunyai dorongan semangat yang kuat.
Ø Keniungkinan mengalami kemund regresi atau kemunduran mental. Misalnya, kembali mengompol karena rasa cemas.
Ø Mencoba hal-hal negatif. Sebagian anak melampiaskan perasaan gundahnya ke hal-hal yang negatif, seperti merokok, narkoba, atau bahkan seks bebas. Ini terutama bagi buah hati yang memasuki usia pra remaja.
"Pada beberapa kasus perceraian, efek psikologis yang akan paling terasa pada anak adalah rasa amarah. Rasa amarah ini dirasakan baik pada diri sendiri maupun terhadap orangtuanya," jelas Irma. la kemudian menambahkan bahwa kemarahan yang meluap pada anak akan menimbulkan sikap agresif, sementara kemarahan yang selalu dipendam akan membuat anak mempunyai kecenderungan menjadi sosok yang pemurung, pendiam, dan selalu menarik diri.
Jika keputusan berpisah sudah tidak dapat dihindari lagi, sebaiknya orang tua terlebih dulu menginformasikan hal itu kepada buah hati. Sampaikan dengan hati-hati agar mereka tidak shock. Sebelum menyampaikan, perhatikan situasi, kondisi, dan waktu. Semua harus tepat. "Terlalu dini atau terlalu lama memberikan kabar, efek psikologisnya bisa lebih buruk. Harus tepat," tambah Irma.
Jika orang tua terlalu dini dan terburu-buru memberikan kabar perceraian, apalagi tanpa mempertimbangkan kesiapan mental, perasaan anak-anak akan tidak nyaman. Namun, terlalu mengulur-ulur waktu pun tidak dianjurkan sebab hanya membuat buah hati kebingungan dengan keadaan yang sebenarnya.
"Orang tua bisa memanfaatkan hari Hbur untuk mengajak buah hati bicara. Pada saat menyampaikan, gunakanlah bahasa yang sederhana sehingga dapat dimengerti anak. Yang terpenting, ucapkanlah minta maaf pada mereka. Katakan bahwa perceraian terjadi bukan karena anak-anak. Ini perlu dilakukan sebab sebagian anak jadi merasa sangat bersalah ketika mengetahui orang tuanya bercerai, menganggap perpisahan itu terjadi karena ulah mereka," imbuh Irma.
Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak-anak tetap bisa berkembang secara normal, meski ayah dan ibunya bercerai. Agar dapat terwujud, hal yang paling penting dilakukan adalah menjalin hubungan baik dengan mantan suami. Lalu, lakukan langkah-langkah berikut:
Selalu adakan pertemuan secara rutin. Rutin artinya haruslah pasti, terprediksi dan konsisten. Pertemuan di sini maksudnya pertemuan anak-anak dengan orang tua yang terpisah (misalnya ayahnya). Jika buah hati sudah mulai dapat beradaptasi dengan perceraian, barulahjadwal pertemuan bisa dibuat dengan lebih fleksibel. Jangan bersikap egois. Anda harus dapat mengesampingkan masalah pribadi yang terjadi sehingga buah hati Anda tidak terbawa-bawa dalam masalah sejak awal terjadinya proses perceraian ini.
Jaga kesan positif. Walau sudah berpisah, masing-masing pihak, baik ayah atau ibu, harus bisa terus memberikan pencitraan positif tentang mantan pasangannya. Jangan katakan bahwa perceraian ini karena, misalnya, ayah yang kasar, tidak setia atau tidak bertanggung jawab dan lain sebagainya. Kita harus tetap menjaga respek buah hati kepada ayah kandungnya.
Jangan tempatkan buah hati pada sebuah konflik pribadi. Misalnya meminta anak untuk berbohong. Anda harus tetap mengajarkan mereka untuk mempunyai rasa hormat, baik terhadap orang tua maupun diri sendiri.
Usahakanlah untuk selalu hadir di acara-acara penting anak, baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Misalnya, saat buah hati sedang dirawat karena sakit, buah hati sedang mengikuti lomba atau pentas, menerima hadiah, wisuda dan lainnya.
Seberapa keras usaha orang tua, kadang efek buruknya pada anak tali bisa diprediksi. Untuk itu, ada baiknya bekerja sama dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan buah hati, misalnya wali kelas. Sebelumnya jangan lupa untuk memberikan informasi pada pihak sekolah tentang perubahan-perubahan yang terjadi. Mereka juga perlu tahu. Selain itu, jika memang diperlukan, janganlali ragu untuk menggunakan tenaga ahli dalam menangani buah hati, misalnya psikolog. Dengan bantuan itu, buah hati bisa melalui masa-masa sulit dengan lebih baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar